Wednesday, August 9, 2017

Negeri Para Preman (jilid 2)

Apa yang terjadi pada seorang bapak yang tewas secara tragis dengan cara dianiaya dan dibakar oleh massa karena disangka ia adalah seorang maling di Bekasi adalah sebuah tindakan yang sungguh sangat biadab dan tak bisa dimaafkan. Kalau memang kita negara hukum, maka dimata hukum semua warga negara memiliki kedudukan yang sama, dari presiden sampai penjahat paling biadab sekalipun, mereka memiliki hak  untuk mendapatkan keadilan di pengadilan dengan sebaik-baiknya bukannya di jalanan.

kejadian tragis tersebut yang kembali  terjadi hanya semakin mempertegas posisi kalau kita belum sepenuhnya bertransformasi menjadi masyrakat merdeka seutuhnya. Karena orang yang sepenuhnya merdeka adalah bukan hanya dari segi fisiknya saja, tapi juga dari dalam, dari pikirannya, merdeka dari kebencian, prasangka, dan semua pikiran dan ide yang tidak menghargai harga hidup orang lain.

Kasus penganiayaan, dan pembakaran massa terhadap pelaku kriminal di jalan-jalan adalah gambaran dari masyarakat yang barbar, tidak mengenal hukum dan etika. Tidak sepatutnya kita sebagai bangsa yang berasaskan “kemanusiaan yang adil dan beradab” masih mengadopsi perilaku-perilaku yang bertentangan dengan rasa kemanusiaan, apalagi di jaman seperti sekarang.

Yang penulis maksud adalah, jaman dimana kekerasan bukan lagi  sebagai satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalah. Masa gelap itu sudah kita tinggalkan, masa dimana umat manusia saling berperang, membunuh, memperkosa, dan menjarah antara kelompok satu dengan yang lain. Kita telah naik tingkat menjadi manusia yang mengenal welas asih, cinta, harapan, dan pengampunan sebagai cara yang tepat untuk meng-counter- kebencian, murka, dan kerusakan.

Kita bukan lagi termasuk dalam golongan masyrakat yang masih mempercayai kalau kekerasan adalah jalan satu-satunya agar mendapat respect dari orang lain, kita bukan lah orang yang lebih bangga menunjukkan otot nya daripada menggunakan otaknya, kita bangsa beradab dan memiliki nilai-nilai luhur sebagai identitas kita yang sangat berharga, jangan merusaknya hanya karena nafsu binatang sekejap saja.

Indonesia adalah satu-satunya negara dimana eksekusi jalanan masih sering kali terjadi dan dibiarkan begitu saja oleh aparat, karena kita sama-sama berpikir toh yang kebanyakan menjadi korban adalah para pelaku kejahatan, kita merasa mereka pantas mendapatkan perlakuan keji semacam itu, tewas dengan mengenaskan di jalanan.

Lalu bagaimana dengan kriminal-kriminal lainnya?, yang kejahatan mereka lebih parah, lebih tidak manusiawi dari si tukang maling sendal mushala tadi? Pelaku korupsi uang rakyat milyaran rupiah itu dengan santai saja cengar-cengir di depan kamera? Terus adil nya dimana?. Disatu sisi kita mengutuk para koruptor itu tapi disisi yang lain kita juga merampas hak hidup saudara sendiri, hak untuk mendapatkan keadilan, sama seperti yang didapatkan koruptor tadi.

Memang masyrakat memiliki alasan untuk bertindak seperti itu, seperti mereka telah berulang kali menjadi korban kejahatan, maling misalnya, daerahnya menjadi rawan perampokan saat ini karena petugas atau polisi belum juga dapat menangkap sang penjahat, dan seterusnya. Tapi sekali lagi nyawa seorang manusia tidak bisa dibandingkan dengan apapun, nyawa adalah hak hidup eksklusif setiap manusia yang hanya sekali ia dapatkan sepanjang hidupnya dan itu datangnya hanya dari Allah SWT, kalau hilang ya sudah , tamat.

Eksekusi jalanan sudah saatnya dihentikan, dan aparat berwenang harus bertindak tegas agar tidak ada lagi yang namanya main hakim sendiri. Kalau memang kita masih mempercayai hukum sebagai landasan negara ini dalam mencari keadilan, maka serahkan semuanya pada mekanisme yang ada, tidak boleh ada lagi aksi premanisme di jalan-jalan, selain merugikan orang lain, aksi barbar semacam itu adalah contoh buruk untuk anak-anak kita kelak.