Skip to main content

What school is,..???


Ketika dunia telah melaju dengan sangat cepat, bersama segala bentuk perkembangan dan kemajuan teknologi nya, manusia adalah makhluk pertama yang bertanggung jawab atas kenyataan itu dan seharusnya mampu mengontrol keadaan tanpa harus kehilangan arah. Tuntutan untuk mensejajarkan diri dengan kemajuan itu semakin hari semakin meningkat, manusia sebagai makhluk berakal sadar sepenuhnya kalau meningkatkan kualitas diri menjadi sebuah keniscayaan. Dengan jalan pendidikan salah satunya.

Setiap negara di dunia ini sekarang menjadikan pendidikan sebagai salah satu program penting demi mensukseskan cita-cita setiap negara agar warganya mampu mensejajarkan diri dengan perkembangan jaman dan berguna bagi kemajuan negara mereka. Karna pemahaman kebanyakan orang negara yang maju adalah berkat orang-orangnya yang berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas yang akhirna mampu memajukan negara menuju apa yang disebut sebagai “negara maju dan berkembang”.

Namun sistem pendidikan saat ini sayangnya telah berubah haluannya. Hanya Menjadi mesin pencipta robot yang berorientasi pada materi dan yang berkilau saja. Sistem pendidikan kita saat ini hanya membentuk persepsi dalam diri anak didik kalau hidup yang menjadi tujuan adalah masa dimana di suatu hari nanti mereka mampu hidup berlimpah harta, anak dan istrinya bahagia tanpa peduli apa yang ada dan terjadi disekelilingnya. Jadi sisi yang paling banyak disentuh itu adalah nalar, otak. Bukannya sisi perasaan,sosial, kemanusiaannya yang harusnya menjadi prioritas bagi siapa saja yang berkecimpung didunia pendidikan di negeri ini. Anak adalah mesin foto kopi paling cepat di dunia, mereka akan menagdopsi dengan cepat apa yang mereka lihat dan dengar disekelilingnya, jadi tak heran kalau ada peribahasa “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, jangan salahkan kalau mendapati seorang anak masih kecil sudah merokok, mencuri, lihat dulu bagaimana orang tuanya mendidiknya, lingkungan tempat tinggalnya, dan teman-temannya, yang sudah pasti menjadi area yang paling banyak memberikan pengaruh bagi tumbuh kembang setiap anak yang dalam masa pertumbuhan.

Sekolah pun saat ini bukan lagi menjadi tempat yang mengasyikkan, sekolah berubah menjadi momok yanag menakutkan. karna apa yang terdapat dan terjadi didalamnya tidak lagi mencerminkan apa yang seharusnya berada dalam dunia pendidikan, seperti situasi yang tenang, harmonis satu sama lain, dan perasaan mengayomi dari para pendidik sudah langka didapati. Ironisnya yang justru kita dapati yaitu anak-anak kita di –bully- ditempat seharusnya mereka mandapatkan pengatahuan dan teman-teman  yang baik. Sangat miris melihat berita-berita di media dimana nyawa seolah melayang begitu saja oleh tangan seniornya disekolah, universitas dan institusi pendidikan lainnya. Maka timbullah satu pertanyaan lagi mengenai sistem pendidikan negeri ini, sebenarnya apa yang mereka ciptakan di dalam sana (sekolah, universitas, dan institusi pendidikan lainnya), monsterkah sampai-sampai selalu saja ada berita mengenai penganiayaan setiap tahunnya dan lebih memprihatinkan lagi selalu memakan korban. Come on,. Kita sudah bukan lagi berada di jaman batu dimana kekerasan menjadi satu-satunya jalan menjadi opsi pemecahan suatu masalah, janganlah kembali menjadi manusia terbelakang yang menyelesaikan segala hal dengan cara kekerasan, percuma kita diberkahi akal pikiran kalau tidak mau dan mampu mengggunakannya.

Jangan tanya dimana pemerintah ketika semua hal diatas terjadi, mereka masih terlalu sibuk dengan ururannya masing-masing, maksudnya yaitu diri mereka sendiri, keluarga dan partai-partainya. Lihatlah diatas sana, digedung serba megah dimana mereka seharusnya mewakili setiap nyawa yang ada dinegeri ini, kenyataannya mereka ribut seperti orang tak berbudaya di tempat yang seharusnya menjadi representasi dari sebuah jargon sakti “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Tapi yang tampak bukan rakyat, kami tak melihat ada rakyat disitu, hanya arogansi, kebodohan, perut buncit, dan partai yang dimanasaja saja selalu mengatasnamakan rakyat.

perkembangan teknologi informasi dewasa ini membuka selebar-lebarnya kesempatan bagi siapapun untuk mengakses informasi, ini dapat menjadi jalan bagi siapapun yang ingin mengetahui perkembangan dunia dan mencari ilmu pengetahuan. Bangku sekolah bukan lagi menjadi jalan satu-satunya untuk mendapatkan pendidikan, tidak juga mengecilkan arti pentingnya sekolah, tapi para orang tua harus lebih aware bahwa institusi pendidikan bukanlah satu-satunya pihak yang harus dibebani tanggung jawab besar mengedukasi putra-putri mereka, tempat pertama dalam hidup anak yang paling berpengaruh dan membawa dampak besar terhadap psikologis dan emosional anak tentu saja keluarga.


Mari jadikan sekolah kita dan institusi pendidikan lainnya itu sebagai lembaga yang berorientasi pada pembentukan karakter anak, mengisi jiwa-jiwa mereka dengan contoh teladan nyata, bukan lagi memaksakan kehendak dengan mewajibkan mereka menghafal segala macam hal, karna hidup yang sebenarnya lebih dari sekedar pintar, tapi adalah kecerdasan bersosialisasi dan mengelola emosi. Satu hal yang paling penting juga yaitu sisi spiritual anak, anak yang dari kecil sudah dibiasakan mengenal tuhannya, berpedoman pada baik-buruk perbuatan, maka dia akan selalu berhati-hati dalam bertindak. Karna sosok panutan dalam diri anak, adalah cetak biru dimasa depan mereka akan menjadi apa.   

Comments

Popular posts from this blog

pemahaman etika menurut Aristoteles dan Immanuel Kant

MENURUT ARISTOTELES Etika adalah Ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Istilah lain yang iden¬tik dengan etika, yaitu: • Susila (Sanskerta), lebih menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih baik (su). • Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika berarti ilmu akhlak. Filsuf Aristoteles, dalam bukunya Etika Nikomacheia, menjelas¬kan tentang pembahasan Etika, sebagai berikut: • Terminius Techicus, Pengertian etika dalam hal ini adalah, etika dipelajari untuk ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia. • Manner dan Custom, Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat) yang melekat dalam kodrat manusia (In herent in human nature) yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia. Pengertian dan definisi Etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya; antara lain: ...

SANG PENDOBRAK

Tipe pemimpin seperti Ahok merupakan tipe yang jarang ada dan dapat dikategorikan sangat langka dimiliki Indonesia sejak awal kemerdekaan sampai sekarang. Tipe pemimpin yang tegas tanpa basa-basi sudah sangat jarang kita jumpai dewasa ini ditengah telah berkembang nya budaya toleransi salah kaprah dikalangan para pemimpin atau wakil rakyat kita. Ya, toleransi dalam bentuk dan tempat yang salah, biasanya toleransi seperti ini dipraktekkan dalam kondisi dimana diantara pejabat yang satu dengan yang lain sudah tau sama tau tentang projek gelap nan illegal diantara mereka kemudian saling bermain mata, ini arti toleransi bagi mereka. Tau sama tau kalau diantara mereka bermain curang, busuk didalam manis diluar. Kehadiran Ahok seakan menjadi oase di tengah padang pasir gersang yang sudah terlalu lama dinantikan rakyat Indonesia (terlepas kalau sekarang Ahok hanya menjadi Gubernur di Jakarta), tetap Ahok menjadi tipe pemimpin idaman karna rakyat sudah muak dengan segala kemunafikan ber...

kampanye dan propaganda

A.            DEFENISI KAMPANYE Kampanye pada prinsipnya merupakan suatu proses kegiatan komunikasi individu atau kelompok yang dilakukan secara terlembaga dan bertujuan untuk menciptakan suatu efek atau dampak tertentu. Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai “serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu” (Venus, 2004:7).           Beberapa ahli komunikasi mengakui bahwa definisi yang diberikan Rogers dan Storey adalah yang paling popular dan dapat diterima dikalangan ilmuwan komunikasi (Grossberg, 1998; Snyder, 2002; Klingemann & Rommele, 2002). Hal ini didasarkan kepada dua alasan. Pertama, definisi tersebut secara tegas menyatakan bahwa kampanye merupakan wujud tindakan komunikasi, dan alasan kedua adalah bahwa definis...