Monday, February 10, 2014

DIMANA AKU DIMANA RUMAHKU


Aku lahir dan dibesarkan di lingkungan penuh dengan hijaunya daun, diantara tingginya pepohonan berusia ratusan tahun dan segarnya udara tanpa polusi dan zat-zat kimia mematikan lainnya, yang namanya aku pun tak paham apalagi menyebutkannya. Aku masih ingat  ketika dulu aku bersama saudara-saudaraku sering bermain diantara pepohonan besar berusia ratusan tahun, baik di dahan dan pucuk-pucuk pencakar langitnya. Didalam hutan dan tingginya gunung yang tak terjamah oleh tangan makhluk lain yang belakangan aku tahu namanya manusia dan mereka menyebut diri mereka masyarakat beradab dan toleran. Yang belakangan aku tahu (sayangnya) kalau itu hanyalah retorika dan bohong belaka.

Dulu, aku dan saudara-saudaraku biasa menghabiskan waktu bersama mencari makanan di kedalaman hutan, diatas pohon, bermain jauh terus ke sungai-sungai nan jernih penuh dengan ikan-ikan segar. Kami berkompetisi, siapa yang mendapatkan makanan paling banyak dan menghabiskan dengan cepat sambil bergelantungan di pohon paling tinggi maka dia dapat memberi hukuman bagi yang kalah, aku sering kali menang, karna kata saudara-saudaraku aku memiliki badan yang besar dan kuat dan selalu menang kalau berkelahi dengan mereka dan spesies (penduduk hutan) yang lain, hukumanan yang aku berikan biasanya mereka akan ku minta untuk mencium pantat ku yang sangat bau itu, hahaha sungguh kenangan yang indah... kami selalu bergelantungan dan melompat-lompat, pindah dari dahan satu ke dahan yang lain, dari pohon yang satu ke pohon yang lain, saling berlomba siapa yang paling cepat sampai..
Please Save Us

Dan aku pun masih teringat, hari itu ketika aku dan saudara-saudaraku sedang asyik bermain panjat pohon disebuah pohon tua dan besar, kami menyebutnya “mbah pohon besar” karna pohon ini telah ada sejak leluhur kami hidup dan membentuk koloni disini. Menjadi semacam ikon Protect Paradise http://www.greenpeace.org/seasia/id/aksi-kamu/Protect-Paradise/ kami dari habitat asli dan tempat kami biasa berkumpul ketika sedang bersama.  Ketika sedang berada di pucuk mbah pohon besar kami medengar suara kegaduhan yang sangat memekakkan telinga dibawah kami, kami pun seketika menghentikan kegiatan kami, dan tanpa dikomando secara serentak melihat ke bawah, dan yang kami lihat sungguh sebuah bencana..

Kami melihat orang tua kami sebagian besar diseret masuk dengan leher dan tangan terantai kesebuah kandang besar, mereka berontak dengan sangat hebatnya namun tanpa daya rantai itu terlalu kuat untuk dihancurkan, rupanya mereka telah masuk perangkap yang dipasang oleh manusia-manusia itu!!! Dengan makluk-makhluk asing disekitar mereka menodongkan senjata yang mengeluarkan suara yang aku bersumpah tak akan pernah kulupakan. Dan yang lebih mengerikan lagi disamping itu semua kami juga menyaksikan bagaimana para orang tua kami dibawah sana yang melakukan perlawanan, jatuh, tumbang, sekarat dan mati ketika peluru-peluru panas datang mengambil mereka selamanya dari tanah tempat mereka lahir dan membesarkan kami, dari situ aku dapat melihat air mata dari ayahku yang jatuh ke tanah dengan empat peluru menembus badannya yang besar saat mencoba meraih ibu yang dibawa dibawa makhluk-makhluk biadab itu, ayah berusaha menyelamatkan ibu dan saudara nya yang lain..
Rumah Kami Yang Hancur

Seketika keceriaan hari itu berubah menjadi kegaduhan yang luar biasa, banyak tetangga-tetangga kami yang mendengar suara tembakan dan teriakan yang dibawa makhluk asing dibawah sana langsung lari membawa keluarga-keluarga mereka, segala jenis burung berterbangan meninggalkan sarang dan rumah yang telah mereka bangun selama beberapa generasi, kami paham mereka tak ada daya untuk maju melawan, dan berpikir untuk menolong keluarga kami yang tertangkap dan tumbang satu-persatu dibawah sana ,.. bahkan singa, beruang dan harimau yang terkenal diantara kami sebagai penjaga tempat ini lari tunggang langgang, itupun hanya karna suara berat dari mesin yang dapat mengeluarkan asap dan jerit tangis memilukan yang ditimbulkan akibat perilaku milik makhluk bernama manusia itu,..

Ketika ayah tumbang dan terjatuh ketanah bersama saudaraku yang lain, dia menghadap keatas dan melihat aku bersama teman-temanku yang ketakutan. Sudah sangat terlambat ketika dia memberi isyarat agar kami semua segera pergi dengan raungannya yang semakin melemah.  Aku yang terpaku seakan sudah tidak berada disana lagi, tercabut ragaku menyaksikan pembantaian keji dan menakutkan ini, tanpa kusadari teman-temanku yang lain sudah sangat marah dengan apa yang menimpa keluarga mereka, turun semua menyerbu kebawah, aku tertinggal sendirian dibelakang mereka, seketika suara letusan senapan dari manusia-manusia itu yang menyadari keselamatan mereka terancam oleh serangan tiba-tiba dari spesies yang lebih muda, menembak secar membabi buta keatas, suara letusan peluru berhamburan disekitar kami, satu-persatu teman-temanku terjatuh ketanah dengan suara berdebam yang memilukan, anehnya tidak semua dari mereka berdarah.

Belakangan aku ketahui untuk spesies yang mereka anggap muda mereka memakai peluru bius agar dapat membawanya..

Ketika sadar karna tubuhku terguncang, aku bersama dengan spesies ku yang lain sudah berada dalam sebuah kandang terbuat dari besi, dibawa oleh mesin beroda yang bergerak lambat diringi didepan dan belakangnya oleh manusia-manusia yang diwajahnya penuh kepuasan yang menjijikkan dengan senjata yang selalu siap mereka ledakkan.. ternyata aku telah terkena peluru bius sehingga tidak sadarkan diri. Aku mengaum, berontak, marah-sejadi-jadinya, aku mencoba keluar dengan  membongkar dan memukul jeruji yang mengurung kami, namun hanya sia-sia belaka, kami putus asa dan tidak tahu akan dibawa kemana,..

Sekarang, disinilah aku berada ditengah-tengah manusia yang sangat ramai dan tertawa terbahak-bahak, setengah dari populasi kami telah tewas dan hutan sebagai habitat asli kami telah hancur dan terbakar bahkan hampir rata dengan tanah, aku melihat dari kandang yang membawa kami  ketika itu, mesin-mesin besar yang mengeluarkan asap hitam dengan sekali sentakan dapat menghancurkan “mbah pohon besar” dan mbah-mbah yang lain tempat kami biasa menghabiskan waktu seharian, mbah pohon besar telah tumbang, sebagai tanda  awal dari hancurnya tempat tinggal kami. hanya sebagian kecil dari kami yang selamat dan dibawa ketempat yang sangat asing dan bising ini. Kondisi kami memprihatinkan, sebagian besar mengalami luka dan kesakitan,..

Sampai sekarang kami disekap disebuah tempat yang kami tak tahu dimana, karna sengaja disembunyikan, karna yang aku dengar kami akan diperjual belikan, bahkan yang lebih miris lagi ada sebagian dari kami entah siapa yang akan dibunuh untuk diawetkan, membayangkannya saja aku tak bisa.

aku masih mempunyai harapan besar bahwa suatu hari nanti akan dapat kembali kerumah, hutan tempat dimana aku seharusnya berada dan dapat mengembang-biakkan spesies kami dan kembali membentuk koloni, bukan disini, tempat para manusia-manusia tamak ini yang dengan segala cara menghancurkan tempat tinggal kami hanya untuk memuaskan nafsu mereka saja. tapi tidak tahu kapan, aku hanya harus yakin saat itu akan datang bahwa tidak semua manusia jahat dan membawa senjata terus memusnahkan spesies kami, merampas tanah dan rumah bagi anak-anak kami dan yang lain, mereka lupa bahwa alam mempunyai caranya sendiri untuk membalas segala perbuatan mereka yang merusak keharmonisan yang telah digariskan Tuhan atas mereka. Sesungguhnya setiap musibah itu bermula dari tangan manusia itu sendiri yang memulainya. Harapan dan terus yakin, hanya itu yang kami punya saat ini.

kini aku masih menduga-duga dimana aku berada dan akan dibawa kemana......