Wednesday, August 9, 2017

Suatu Negeri yang Lagi-lagi Kalah.

Sudah bukan rahasia lagi kalau sebuah perusahaan akan melakukan apa saja demi kepentingan dan kuntungan atau profit usaha mereka, jadi mempercayai kalau perusahaan mempunyai iktikad baik untuk tidak mengulangi lagi kesalahan mereka di masa lalu bukan hanya tindakan yang gegabah, tapi sebuah kebodohan yang tak ada obat nya. Sejarah membuktikan, industri apapun itu bentuknya adalah sektor yang paling banyak mengakibatkan kerusakan di muka bumi ini, alam adalah sasaran eksploitasi mereka, dan manusia adalah korban nya.

Ketika bicara alam maka jangan lupa masukkan pula makhluk yang hidup di dalamnya, ada fauna dan satwa, tetumbuhan dan hewan-hewan yang menggantungkan hidup mereka pada hutan. Menghancurkan hutan sama saja dengan memusnahkan semua makhluk hidup tak terkecuali manusia.

Hutan indonesia sebagai salah satu paru-paru dunia tak pelak lagi adalah harta warisan yang tak ternilai harganya, jadi merawat dan menjaganya dari kerusakan adalah kewajiban semua umat manusia, terutama rakyat Indonesia sebagai sang tuan tanah. Tapi melihat kenyataan yang terjadi, jauh panggang daripada api malah kebalikannya yang kita lihat, penggusuran hutan, pembakaran hutan, seperti tak ada henti-hentinya. Walau sudah jelas siapa yang melakukan kerusakan itu, dan sudah jelas pula apa dampaknya bagi masyarakat sekitar, tapi mengapa pemerintah seakan mati kutu, selalu kalah cepat dengan mafia itu, dan lagi-lagi tak bisa berbuat apa-apa, hutan kita sudah rata dengan tanah dan arang, pemerintah lagi-lagi kalah tak berkutik di ketiak para perampok tanah rakyat.

Proses pengawasan dan perlindungan hutan memang bukan tugas pemerintah saja, tapi semua elemen rakyat harus terlibat, karena hutan adalah milik bersama. Tapi pemerintah sebagai pihak yang dipercaya rakyat untuk memiliki otoritas membuat peraturan lewat undang-undang harusnya tegas pada permasalahan penting ini, bukannya malah ikut ambil keuntungan pribadi, mental pejabat seperti inilah yang akhirnya membuat rakyat jengah, maka jangan salahkan rakyat kalau pada akhirnya pemerintah dianggap bukan lagi representasi rakyatnya. Tapi sebaliknya adalah kaki tangan dari para pemilik modal, direksi dari perusahaan besar yang ingin menjarah tanah rakyat Indonesia, dan merubahnya menjadi sumber uang mereka dan keluarganya.


CASE 1

Pembakaran hutan gambut yang kembali terjadi malah seakan menjadi sebuah agenda tahunan yang wajib dilaksanakan, tanpa perasaan sama sekali, tanpa menghiraukan akibatnya, dan tanpa memperdulikan keselamatan orang lain, hutan tetap saja selalu dikorbankan. Seakan kesengsaraan penduduk, kematian, bencana alam tidaklah cukup menjadi peringatan, bahwa pengrusakan hutan tidaklah mendatangkan manfaat apa-apa terutama bagi mereka yang memiliki hak atas tanah tersebut yaitu, penduduk sekitar hutan, mereka, rakyat Indonesia.

Undang-undang jelas menyatakan,  alam dan segala isinya haruslah dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Bukan penguasa, pengusaha, apalagi asing!.

Kembali terjadinya pembakaran hutan di banyak sekali titik di Indonesia merupakan tamparan keras bagi pemerintah, ini hanya salah satu lagi bukti ketidakbecusan pemerintah dalam melindungi aset negara dari kepentingan korporasi besar. Pemerintah sekali lagi menunjukkan ketundukkan mereka pada kekuatan modal asing melalui perusahaan-perusahaan kelapa sawit yang dengan terang-terangan memperluas wilayah ekspansi hutan di Indonesia dengan caya yang illegal dan tidak manusiawi.

Pemerintah Indonesia sekali lagi kalah, KO, atas kepentingan modal asing, inilah gaya baru penjajahan modern, pencaplokan wilayah atas dasar kepentingan ekonomi bagi segelintir orang yang menuai hasil dari menjual properti negara dan rakyat. Yang lebih menyakitkan lagi tragedi kemanusiaan ini terjadi tepat di depan mata dan hidung kita semua, rakyat Indonesia yang tak tahu apa-apa tapi malah kemudian menjadi pihak yang paling sengsara menerima akibatnya.

Asap dari pembakaran hutan tak diragukan lagi adalah bencana yang disengaja dan bukan termasuk bencana yang diakibatkan oleh alam, atau secara alami terjadi. Asap dari pembakaran hutan jelas-jelas adalah pesan kematian langsung kepada penduduk di sekitar wilayah terdampak pembakaran hutan ilegal. Mengapa kita tidak belajar dari sejarah sekali lagi?, apa harus menunggu ada anak-anak yang mati dulu, baru kemudian kita beramai-ramai mengirim bantuan, relawan turun tangan, bantuan pemerintah berdatangan.

Mengapa kita tidak lebih baik sedia payung sebelum hujan, kita telusuri langsung ke akar permasalahannya, kita cegah dari sana, bukan nya malah menunggu hujan, badai, dan kemudian banjir menghantam kita keras-keras.

Inti permasalahannya adalah adanya pembiaran, dan kelonggaran regulasi pemerintah terhadap perusahaan kelapa sawit dan perusahaan-perusahaan lainnya yang sektor produksi mereka sangat tergantung pada sumber daya hutan. Yang paling tampak adalah perusahaan kertas dan kelapa sawit, karena mereka sangat bergantung pada luasnya lahan dan pepohonan yang ada disana.

Kalau sudah begini jadinya apakah kita sebagai rakyat masih percaya dengan kinerja pemerintah, baik yang di pusat apalagi di daerah?. Rakyat tidak bisa hanya menunggu saja sampai terjadi bencana, sampai anak kita mati tercekik asap, jangan sekali-kali menunggu pemerintah turun tangan, jangan!. Karena mereka sama sekali tidak merasakan penderitaan kita, hebatnya sistem kapitalis adalah, ketika terjadi krisis maka rakyatlah yang paling merasakan akibatnya, dan para orang-orang kaya, borjuis, pemerintah itu nyaman-nyaman saja di tampuk kekuasaan mereka, kalau terjadi chaos, mereka tinggal melenggang ke luar negeri dengan segala aset yang mereka bawa, yang mana adalah kekayaan milik rakyat Indonesia.

Mereka memiliki simpanan di bank-bank di Swiss dan Singapura, dan rakyat punya apa?, tidak ada, karena kita hanya diam saja ketika mereka para pengusaha sebagai perwakilan kaum borjuis, dan oknum  pemerintah itu merampok rumah kita secara terang-terangan.

Indonesia adalah milik rakyat, Bung Karno menyebut mereka Marhaen. Kita adalah Marhaen-marhaen baru yang hidupnya dihabiskan membajak sawah, setiap hari bergulat dengan keringat dan lumpur, kulit menjadi hitam dan kapalan, tapi siapa yang mendapat untungnya, ya, mereka, diatas sana, tinggal duduk-duduk saja, mereka yang mendapat untung paling besar, karena mereka menguasai sistem, mereka duduk diparlemen, mereka yang mengontrol pasar, mereka yang menentukan kita makan hari ini atau tidak. Kita membiarkan mereka melakukan ini semua.

Tidak ada hal yang lebih sedih daripada menyaksikan saudara sendiri mati kelaparan, mati karena bencana, bencana yang ditimbulkan tidak lain dan tidak bukan karena kelalaian dan pembiaran dari orang yang katanya adalah saudara kita semua, saudara sesama rakyat Indonesia. Tapi mereka malah berkhianat, mereka menjual tanah Indonesia kepada para pemiliki modal, dan menumbalkan saudaranya sendiri untuk di lalap api dan tidak bisa bernapas karena udara telah terkontaminasi oleh asap.


CASE 2
Tapi mengapa pemilu-pemilu masih ramai?
Partai politik baru selalu bermunculan?
Tokoh politik menjelma bak selebritis?
Ketenaran menjadi konsumsi publik yang tak habis-habis?
Apakah sebegitu bodoh nya kita masih saja mempercayai para pejabat,
Polisi, tentara, dan hakim itu?
Apakah sudah begitu dibutakan mata kita atas dosa-dosa mereka?
Apakah kita sudah terlalu terbiasa tertindas di atas tanah sendiri?
Apakah kita lagi-lagi diam?

Seperti masuk ke lubang yang sama berulang-ulang kali, itulah kondisi yang pas untuk menggambarkan bagaimana reaksi negara terhadap pembalakan liar hutan Indonesia. Bukannya mengambil langkah tegas justru lagi-lagi kita, dan negara kita kalah oleh hanya segelintir orang kaya nan serakah.

Sudah saatnya rakyat bergerak sendiri, turun langsung melindungi hutan, karena kita tidak mau menjadi generasi yang mewariskan kekalahan, kehancuran alam, terhadap anak cucu kita nanti di masa depan.

Pemerintah mulai saat ini juga harus membuat aturan tegas dan mengikat selama-lamanya, berlaku di seluruh wilayah NKRI, tanpa terkecuali. Segala bentuk pembalakan liar, pengrusakan, dan pembakaran hutan tanpa seizin pemerintah demi kepentingan apapun haruslah di hukum seberat-beratnya.

Kita tidak akan pernah lagi menjadi bangsa yang kalah oleh mafia, kita harus berdaulat di segala bidang, bukan hanya ekonomi, tapi juga wilayah negara, karena hutan adalah aset penting yang tidak semua negara miliki, alam yang bersih dan segar adalah sebaik-baiknya warisan untuk anak cucu kita kelak, bukan nya gedung bertingkat, beton membentang, dan sungai kotor yang tercemar limbah industri. Jangan sampai setelah ikan terakhir di bumi mati, pohon terkahir di bumi tumbang, hewan terakhir di bumi punah, kita baru sadar kalau uang tidak bisa kita makan.



  

Negeri Para Preman (jilid 2)

Apa yang terjadi pada seorang bapak yang tewas secara tragis dengan cara dianiaya dan dibakar oleh massa karena disangka ia adalah seorang maling di Bekasi adalah sebuah tindakan yang sungguh sangat biadab dan tak bisa dimaafkan. Kalau memang kita negara hukum, maka dimata hukum semua warga negara memiliki kedudukan yang sama, dari presiden sampai penjahat paling biadab sekalipun, mereka memiliki hak  untuk mendapatkan keadilan di pengadilan dengan sebaik-baiknya bukannya di jalanan.

kejadian tragis tersebut yang kembali  terjadi hanya semakin mempertegas posisi kalau kita belum sepenuhnya bertransformasi menjadi masyrakat merdeka seutuhnya. Karena orang yang sepenuhnya merdeka adalah bukan hanya dari segi fisiknya saja, tapi juga dari dalam, dari pikirannya, merdeka dari kebencian, prasangka, dan semua pikiran dan ide yang tidak menghargai harga hidup orang lain.

Kasus penganiayaan, dan pembakaran massa terhadap pelaku kriminal di jalan-jalan adalah gambaran dari masyarakat yang barbar, tidak mengenal hukum dan etika. Tidak sepatutnya kita sebagai bangsa yang berasaskan “kemanusiaan yang adil dan beradab” masih mengadopsi perilaku-perilaku yang bertentangan dengan rasa kemanusiaan, apalagi di jaman seperti sekarang.

Yang penulis maksud adalah, jaman dimana kekerasan bukan lagi  sebagai satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalah. Masa gelap itu sudah kita tinggalkan, masa dimana umat manusia saling berperang, membunuh, memperkosa, dan menjarah antara kelompok satu dengan yang lain. Kita telah naik tingkat menjadi manusia yang mengenal welas asih, cinta, harapan, dan pengampunan sebagai cara yang tepat untuk meng-counter- kebencian, murka, dan kerusakan.

Kita bukan lagi termasuk dalam golongan masyrakat yang masih mempercayai kalau kekerasan adalah jalan satu-satunya agar mendapat respect dari orang lain, kita bukan lah orang yang lebih bangga menunjukkan otot nya daripada menggunakan otaknya, kita bangsa beradab dan memiliki nilai-nilai luhur sebagai identitas kita yang sangat berharga, jangan merusaknya hanya karena nafsu binatang sekejap saja.

Indonesia adalah satu-satunya negara dimana eksekusi jalanan masih sering kali terjadi dan dibiarkan begitu saja oleh aparat, karena kita sama-sama berpikir toh yang kebanyakan menjadi korban adalah para pelaku kejahatan, kita merasa mereka pantas mendapatkan perlakuan keji semacam itu, tewas dengan mengenaskan di jalanan.

Lalu bagaimana dengan kriminal-kriminal lainnya?, yang kejahatan mereka lebih parah, lebih tidak manusiawi dari si tukang maling sendal mushala tadi? Pelaku korupsi uang rakyat milyaran rupiah itu dengan santai saja cengar-cengir di depan kamera? Terus adil nya dimana?. Disatu sisi kita mengutuk para koruptor itu tapi disisi yang lain kita juga merampas hak hidup saudara sendiri, hak untuk mendapatkan keadilan, sama seperti yang didapatkan koruptor tadi.

Memang masyrakat memiliki alasan untuk bertindak seperti itu, seperti mereka telah berulang kali menjadi korban kejahatan, maling misalnya, daerahnya menjadi rawan perampokan saat ini karena petugas atau polisi belum juga dapat menangkap sang penjahat, dan seterusnya. Tapi sekali lagi nyawa seorang manusia tidak bisa dibandingkan dengan apapun, nyawa adalah hak hidup eksklusif setiap manusia yang hanya sekali ia dapatkan sepanjang hidupnya dan itu datangnya hanya dari Allah SWT, kalau hilang ya sudah , tamat.

Eksekusi jalanan sudah saatnya dihentikan, dan aparat berwenang harus bertindak tegas agar tidak ada lagi yang namanya main hakim sendiri. Kalau memang kita masih mempercayai hukum sebagai landasan negara ini dalam mencari keadilan, maka serahkan semuanya pada mekanisme yang ada, tidak boleh ada lagi aksi premanisme di jalan-jalan, selain merugikan orang lain, aksi barbar semacam itu adalah contoh buruk untuk anak-anak kita kelak.


Friday, July 28, 2017

RUMAH KU, KELAPA SAWIT MEREKA.

Mendengar kembali kebakaran hutan yang terjadi 
Mengingatkanku akan kisah dari sobat kecilku 
Si orang utan 
Penduduk lokal hutan yang diberangus 
Kini ia terlantar, tak terurus..
Inilah secuil cerita dari si orang utan kecil..
          Kenapa ia bisa berakhir disini, di tempat ia tak seharusnya.

DAHULU KALA... 

Aku lahir dan dibesarkan di lingkungan penuh dengan hijaunya daun, diantara tingginya pepohonan berusia ratusan tahun dan segarnya udara tanpa polusi dan zat-zat kimia mematikan lainnya, yang namanya aku pun tak paham apalagi menyebutkannya. Aku masih ingat ketika dulu aku bersama saudara-saudaraku sering bermain diantara pepohonan besar berusia ratusan tahun, baik di dahan dan pucuk-pucuk pencakar langitnya, didalam hutan dan tingginya gunung yang tak terjamah oleh tangan makhluk lain yang belakangan aku tahu namanya manusia. Mereka menyebut diri mereka masyarakat beradab dan toleran, tapi itu semua adalah palsu, retorika dan kebohongan belaka. 

Dulu, aku, teman dan saudara-saudaraku biasa menghabiskan waktu bersama mencari makanan di kedalaman hutan, diatas pohon, bermain jauh terus ke sungai-sungai nan jernih penuh dengan ikan-ikan segar. Kami berkompetisi, siapa yang mendapatkan makanan paling banyak dan menghabiskan dengan cepat sambil bergelantungan di pohon paling tinggi maka dia dapat memberi hukuman bagi yang kalah, aku sering kali menang, karna kata saudara-saudaraku aku memiliki badan yang besar dan kuat, selera makan ku besar dan selalu menang kalau berkelahi dengan mereka dan spesies (penduduk hutan) yang lain, hukumanan yang aku berikan biasanya mereka akan ku perintahkan untuk mencium pantat ku yang sangat bau itu, hahaha sungguh kenangan yang indah... kami selalu bergelantungan dan melompat-lompat, pindah dari dahan satu ke dahan yang lain, dari pohon yang satu ke pohon yang lain, saling berlomba siapa yang paling cepat sampai.. 

MBAH POHON BESAR... 

Dan aku pun masih teringat, hari itu ketika aku dan saudara-saudaraku sedang asyik bermain panjat pohon disebuah pohon tua dan besar, kami menyebutnya “mbah pohon besar” karna pohon ini telah ada sejak leluhur kami hidup dan membentuk koloni disini. Mbah pohon besar menjadi semacam ikon tempat tinggal kami, mbah pohon besar adalah habitat asli dari hutan ini, maka dia adalah identitas asli kami, anak cucunya. Mbah pohon besar memiliki daun paling lebat, batang pohon paling besar, dan ranting-ranting yang panjang menjulur ke segala arah, yang nantinya akan menjadi rumah bagi kebanyakan penghuni hutan, karena mbah pohon besar menawarkan kehangatan, rasa aman, dan pemandangan luar biasa indah kalau kami berhasil sampai ke puncak nya, dan paling penting mbah pohon besar juga adalah semacam tempat aula pertemuan penghuni hutan disini, kalau sedang ada permasalahan yang ingin dibahas bersama mengenai apa saja yang bersangkutan dengan kehidupan kami, maka tempat nya ya disini, dibawah mbah pohon besar yang rindang dan terlindungi. 

HARI ITU... 

Suatu hari, ketika sedang berada di puncak mbah pohon besar kami (aku dan teman-temanku orang utan kecil) medengar suara kegaduhan yang sangat memekakkan telinga dibawah sana, kami pun seketika menghentikan kegiatan kami, terdiam dan tanpa dikomando secara serentak turun ke bawah bersama-sama untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi?, dan yang kami lihat kemudian adalah sungguh sebuah bencana.. 

PEMBANTAIAN... 

Kami melihat orang tua kami sebagian besar diseret masuk dengan leher dan tangan terantai ke sebuah kandang besar, mereka berontak dengan sangat hebatnya namun apa daya rantai itu terlalu kuat untuk dihancurkan, rupanya mereka telah masuk perangkap yang dipasang oleh manusia-manusia itu!!! Makluk-makhluk asing bernama manusia ini berada disekitar mereka, menodongkan senjata yang mengeluarkan suara yang aku bersumpah tak akan pernah kulupakan. 

Dan yang lebih mengerikan lagi, disamping itu semua kami juga menyaksikan bagaimana para orang tua kami dibawah sana yang melakukan perlawanan, jatuh, tumbang, sekarat dan mati ketika peluru-peluru panas menghujam tubuh mereka yang kuat namun tak berdaya di depan senjata manusia ini, mereka datang mengambil orang tua, kakak, dan saudara-saudara kami selamanya dari tanah tempat mereka lahir dan membesarkan kami. Sementara itu, di salah satu dahan pohon mbah pohon besar yang cukup tinggi dan tak terlihat, aku dapat melihat air mata ayahku, dia melihat ke arahku dan teman-temanku, tanpa terasa air mata kami pun mengalir deras, tapi, kami tetap tak mampu untuk berbuat apa-apa, apalagi menolong mereka saudara-saudara kami yang sedang dibantai di bawah sana, kami terlalu takut, terlalu tak percaya dengan kebrutalan ulah manusia yang kami lihat di bawah sana. 


Ayah melihat kami seakan berkata melalui mata nya yang aku yakin sekali penuh rasa amarah, air mata, dan keputusasaan, mata itu berkata “larilah sejauh mungkin anakku, kalian semua, jangan turun, jangan melakukan hal-hal yang bodoh yang akan membuat kalian ditangkap para bajingan ini!”. Sesaat setelah itu beliau jatuh terjerembab ke tanah dengan empat peluru panas menembus badannya yang besar, tepat ketika mencoba meraih ibuku yang dibawa paksa dengan cara dirantai oleh makhluk-makhluk biadab itu, ayah berusaha menyelamatkan ibu dan saudara nya yang lain.. dan ia mati karenanya... 

Seketika keceriaan hari itu berubah menjadi kegaduhan yang luar biasa, hutan ini, rumah kami yang biasanya hening, kini berubah menjadi arena pembantaian massal, bunyi letusan dimana-mana, teriakan penghuni hutan yang tak ada habisnya, banyak tetangga-tetangga kami, dari spesies lain yang mendengar suara tembakan dan teriakan yang dibawa makhluk asing dibawah sana langsung lari membawa keluarga-keluarga mereka, segala jenis burung berterbangan meninggalkan sarang dan rumah yang telah mereka bangun selama beberapa generasi, kami paham mereka tak ada daya untuk maju melawan, dan berpikir untuk menolong keluarga kami yang tertangkap dan tumbang satu-persatu dibawah sana,.. Bahkan singa, beruang dan harimau yang terkenal diantara kami sebagai penjaga tempat ini lari tunggang langgang, itupun hanya karna suara berat dari mesin yang dapat mengeluarkan asap hitam dan memiliki roda besi di bawah sana, alat itu dengan seketika meratakan tempat tinggal kami, dan astaga! Alat itu menuju tepat ke arah mbah pohon besar! 

Jerit tangis memilukan yang ditimbulkan akibat perilaku makhluk bernama manusia itu terus berlanjut,.. 

Ketika ayah tumbang dan terjatuh ketanah bersama saudaraku yang lain, dan dia menghadap keatas dan melihat aku bersama teman-temanku yang ketakutan. Sudah sangat terlambat ketika dia memberi isyarat agar kami semua segera pergi dengan raungannya yang semakin melemah. Aku yang terpaku seakan sudah tidak berada disana lagi, tercabut ragaku menyaksikan pembantaian keji dan menakutkan ini, tanpa kusadari teman-temanku yang lain sudah sangat marah dengan apa yang menimpa keluarga mereka, turun semua menyerbu kebawah, aku tertinggal sendirian dibelakang.

Seketika suara letusan senapan dari manusia-manusia itu membawa ku kembali ke dunia penuh kebencian ini, aku bingung sekaligus takut untuk turun ke bawah bersama teman-temanku yang lain, aku melihat keselamatan mereka terancam oleh serangan dari manusia dengan senapan dan pistol mereka, yang kaget melihat sebuan dari orang utan kecil yang jumlahnya puluhan, mereka menembak secara membabi buta keatas, suara letusan peluru berhamburan disekitar kami, satu-persatu teman-temanku terjatuh ketanah dengan suara berdebam yang memilukan, anehnya tidak semua dari mereka berdarah. Belakangan aku ketahui untuk spesies yang mereka anggap muda mereka memakai peluru bius agar dapat membawanya tanpa terluka.. 

DI KANDANG, TERKURUNG, TERLUKA... 

Tiba-tiba pandangan ku gelap, dan aku melihat tiga peluru bius menancap tepat di tubuhku, seketika itu pula aku hilang kesadaran. Ketika sadar karena tubuhku terguncang, aku bersama dengan spesies ku yang lain sudah berada dalam sebuah kandang terbuat dari besi, dibawa oleh mesin beroda yang bergerak lambat diringi sekelompok manusia menjijikkan didepan dan belakangnya, mereka berbaris dengan gembira sekali, diwajahnya penuh kepuasan dengan senjata di pundak yang selalu siap mereka letuskan.. ternyata aku telah terkena peluru bius sehingga tidak sadarkan diri. Aku mengaum, berontak, marah-sejadi-jadinya, aku mencoba keluar dengan membongkar dan memukul jeruji yang mengurung kami, namun hanya sia-sia belaka, kami putus asa dan tidak tahu akan dibawa kemana,..

Sekarang, disinilah aku berada, ditengah-tengah manusia yang sangat ramai dan tertawa terbahak-bahak, setengah dari populasi kami telah tewas dan hutan sebagai habitat asli kami telah hancur dan terbakar bahkan hampir rata dengan tanah, aku melihat dari kandang yang membawa kami ketika itu, mesin-mesin besar yang mengeluarkan asap hitam itu dengan sekali sentakan dapat menghancurkan “mbah pohon besar” dan pohon besar yang lain tempat kami biasa menghabiskan waktu seharian, mbah pohon besar telah tumbang, sebagai tanda awal dari hancurnya tempat tinggal kami. 

Hanya sebagian kecil dari kami yang selamat dan dibawa ke tempat yang sangat asing dan bising ini. Kondisi kami memprihatinkan, sebagian besar mengalami luka dan kesakitan,.. salah satu penampakan hutan setelah dilalap api. Nantinya hutan ini akan ditanami kelapa sawit oleh perusahaan. 

KEBENARAN YANG MENYAKITKAN... 

Sampai sekarang kami disekap disebuah tempat yang kami tak tahu dimana, karena sengaja disembunyikan, karna dari yang aku dengar secara tak sengaja kami akan diperjual belikan, bahkan yang lebih miris lagi ada sebagian dari kami entah siapa yang akan dibunuh untuk diawetkan, membayangkannya saja aku tak bisa. Dan yang paling tak bisa aku terima, hutan tempat tinggal kami yang telah mereka ratakan dan bakar itu, akan dirubah menjadi perkebunan kelapa sawit, dan mereka melakukan semua kekejian ini dengan ilegal, tujuan utama mereka adalah hutan rumah kami para orang utan itu, dan kami penduduknya, hanya sebagai hadiah kecil. 

Mereka manusia itu adalah orang-orang suruhan perusahaan kelapa sawit yang ingin membuka lahan baru untuk memperluas kebun kelapa sawit mereka, tapi karena tak ingin ketahuan oleh pemerintah dan masyarakat, mereka membuatnya seolah-oleh telah terjadi kebakaran, bahwa hutan itu terbakar dengan sendirinya, dan asapnya itu menyebar kemana-mana. 

Apakah mereka peduli?. Aku rasa tidak, buktinya lihat saja mereka santai-santai saja, kalau ada penduduk setempat yang kalang kabut karena asap, ada anak kecil yang menderita bahkan meninggal karena asap, mereka, orang-orang perusahaan itu menanggung untung diatas kesengsaraan penduduk sekitar. Bukan hanya manusia yang menjadi korban, para binatang yang menempati hutan itu sekian lama pun tak luput tertimpa bencana dari ulah para manusia seraka ini. 

Dampak dari kebakaran hutan bukan saja untuk manusia, tapi terutama sekali pihak yang paling merasakannya adalah penghuni hutan itu sendiri, yaitu binatang-binatang yang menjadikan hutan itu sebagai tempat tinggal mereka. Hutan adalah satu-satunya tempat dimana para binatang ini harusnya berada, bukan di kebun binatang apalagi di kandang. 

Didalam kandang besi, gelap, dan tempat asing ini aku masih berharap, walau tidak seyakin dulu, bahwa suatu hari nanti kami semua akan dapat kembali kerumah, hutan tempat dimana aku seharusnya berada dan dapat mengembang-biakkan spesies kami dan kembali membentuk koloni, bukan disini, tempat para manusia-manusia tamak ini yang dengan segala cara menghancurkan tempat tinggal kami hanya untuk memuaskan nafsu mereka saja. tapi tidak tahu kapan, aku hanya harus yakin saat itu akan datang bahwa tidak semua manusia jahat dan membawa senjata terus memusnahkan spesies kami, merampas tanah dan rumah bagi anak-anak kami dan yang lain, mereka lupa bahwa alam mempunyai caranya sendiri untuk membalas segala perbuatan mereka yang merusak keharmonisan yang telah digariskan Tuhan atas alam ini. 

Sesungguhnya setiap musibah itu bermula dari tangan manusia itu sendiri yang memulainya. 

Harapan dan terus yakin, hanya itu yang kami punya saat ini. kini aku masih menduga-duga dimana aku berada dan akan dibawa kemana...... 

        (catatan dari orang utan yang orang tuanya dibunuh dan diculik, dan rumah nya di bakar)

Tuesday, July 25, 2017

Palestina Berdarah, lagi.

Entah sudah yang ke berapa kalinya bumi Palestina tercabik, ternodai, oleh perilaku biadab Israel. Palestina adalah satu-satunya negara di jaman sekarang yang masih mengalamai penjajahan secara terang-terangan, dan dunia tetap diam saja. Palestina sudah berteriak meminta pertolongan dari dulu kala sekali, tetapi tidak ada yang berani maju ke garis terdepan bersama mereka melawan Israel, kalaupun ada, mereka akan tumbang duluan sebelum sampai ke medan peperangan. Ingat kasus Mavi Marmara?, Rachel Corby?, Israel tidak akan berdiam diri melihat orang-orang yang ingin membantu Palestina, tanpa malu mereka akan mencelakakan bahkan membunuh siapa saja yang berniat membantu Palestina.

Berharap pada sesama saudara seiman pun nampaknya mustahil, negara-negara islam lainnya lebih sibuk dengan urusan dalam negeri masing-masing, bahkan ada beberapa yang saling bersitegang dan hampir memulai perang diantara sesama mereka sendiri. Siapa yang tertawa atas situasi ini?, ya, Amerika dan Israel. Mereka telah sukses melancarkan strategi adu domba, sehingga negara-negara islam, terutama Timur Tengah baku hantam dengan saudara mereka sendiri, menghancurkan negara mereka sendiri, perang dengan saudara sendiri.

Bukankah ini perang antara Sunni dan Syiah?, itu hanya buatan dan bualan inteligen barat saja, perbedaan tak seharusnya membuat kita saling membunuh satu sama lain, tapi kalau sudah dicampur dengan kepentingan politik, ekonomi dan ditambah sedikit bumbu propaganda yang pas, maka tadaaaa lihatlah orang-orang muslim itu, mereka tampak sangat menikmati saling bunuh sesama saudara seimannya. Sunni dan syiah tak seharusnya menjadi alasan untuk saling berperang, karena kita satu yaitu islam. Mengapa kita tidak saling menghormati perbedaan pandangan satu sama lain, biarkan mereka beribadah sesuai keyakinan mereka, dan saya, kita, Anda semua dengan keyakinan kita masing-masing. Mengapa harus membunuh?. Ingatlah ada pihak-pihak yang diuntungkan dari perselisihan diantara kita, mereka menjual senjata, mereka terus memprovokasi lewat media yang mereka kendalikan, dan kita begitu saja dengan sangat mudahnya percaya dan tersulut kebencian antar sesama.

Umat islam khususnya dan penduduk dunia umumnya terlalu bodoh untuk menyadari kalau ini semua adalah great design mereka The Untouchables diatas sana, lihat, siapa yang diuntungkan oleh pertikaian di Timur Tengah yang tak pernah usai, pertama Afghanistan, Afghanistan usai disusul Irak, Mesir, Libya, dan sekarang Suriah. Belum lagi Pakistan dan India, Indonesia dan Malaysia. Kita terlalu mudah diprovokasi, kita yang seharusnya bersatu padu justru saling menikam punggung saudara sendiri.

Sudah saatnya semua umat islam dimanapun berada untuk bangun, bangun dari tidur panjang yang melenakan, bangun dari tipu daya media-media yang pro pada kepentingan barat yang notabene adalah pemiliknya. Kita tidak bisa lagi menyerahkan permasalahan umat muslim pada orang lain, karena melihat sejarah dan fakta nya, sampai sekarang tidak ada sama sekali manfaat dari rapat-rapat di PBB yang entah sudah berapa puluh tahun dilaksanakan, dan Palestina tetap saja dikuasai Israel.

Satu-satu nya hal yang menahan Israel agar tidak dapat menguasai Palestina sepenuhnya adalah perjuangan rakyat Palestina itu sendiri, tapi jangan lupakan juga bakti para relawan yang datang dari belahan bumi yang lain, yang bahkan mereka sendiri bukanlah orang islam, tapi memilih untuk datang langsung ke bumi al quds yang suci dan membantu rakyat Palestina untuk pulih dari mimpi buruk  mereka dan merebut kembali kemerdekaannya. Sebut saja pejuang Hamas yang di cap media barat sebagai teroris dan sebutan yang cenderung sepihak dan tendensius. Gerakan intifada, bisa Anda bayangkan, anak kecil dengan batu di tangan mereka melawan tank baja, tidak ada masuk di akal sama sekali bukan?, tapi dengan izin Allah, jadilah maka jadilah.

Sekali lagi, kemerdekaan Palestina hanya bisa didapat apabila negara-negara islam bersatu dan bersama-sama melawan Israel dan sekutu-sekutu nya, kita tidak bisa lagi mengandalkan meja perundingan, karena terbukti itu tidak menghasilkan maanfaat apa-apa untuk kepentingan rakyat Palestina, yang ada hanyalah banyaknya korban yang terus berjatuhan dari pihak Palestina, Israel yang terus membangun dinding diatas tanah Palestina untuk memisahkan pemukiman mereka dengan penduduk asli setempat, rakyat Palestina yang kesulitan untuk sekedar beribadah di masjid al aqsa, dan banyak kerugian lainnya yang hanya dirasakan oleh rakyat Palestina.

Apa yang Israel lakukan pada Palestina sama sekali tidak dapat dibenarkan, memakai logika dan akal sehat apapun, tidak alasan yang dapat membenarkan keputusan negara Israel mencaplok tanah Palestina dan mengklaim nya sebagai tanah air mereka.

Diam nya dunia barat adalah bukti kalau Israel ditakuti. Tidak ada yang berani mengusik Israel dan orang-orang yahudi di dalamnya, mereka adalah penguasa dunia yang sesungguhnya, mulai dari media, bank, militer dan semuanya masuk dalam radar kuasa mereka. Tanpa sadar kita adalah pion kecil dari serangkaian sistem besar yang saling terkait, kita hanyalah bidak catur yang hidup nya dikontrol tanpa sama sekali kita tahu. Kita membeli makanan yang ditampilkan di iklan, membeli pakaian yang dipakai sleebritas di tv yang bahkan sama sekali tidak kita butuhkan, membeli kendaraan hanya untuk status sosial di mata orang sekitar, kita robot dan kita tidak sadar.

Apa yang menimpa Palestina dan negara-negara islam lainnya yang sampai saat ini masih berjuang dengan perang di negara mereka masing-masing, adalah bukti sahih kalau Islam sampai kapanpun akan selalu menjadi sasaran untuk dihancurkan. Apakah tidak aneh kalau beberapa tahun kebelakang selalu negara Islam yang mengalami konflik, terlepas dari semua permasalahan yang mendasarinya, rasanya terlalu naif kalau kita berpikir ini hanya kebetulan saja. Kalau menilik sejarah, Umat Islam adalah satu-satunya kaum yang dapat menandingi kekuatan besar yang  ada di setiap jaman, mulai dari Genghis Khan (Mongolia), Alexander The Great(Rome), dan lain sebagainya.

Kekhalifahan Islam dari dulu selalu ditakuti, pembebasan Al Quds di Yerusalem dari tentara salib oleh Shalahudin Al Ayyubi hanyalah satu dari banyaknya fakta sejarah nan gemilang prajurit muslim dalam kancah peperangan, tapi saya yakin tidak banyak dari kita yang mengetahui nya, karena buku-buku sejarah yang beredar di pasaran jarang membahas itu, dan juga karena musuh-musuh islam tidak ingin umat Islam sadar betapa Islam adalah kekuatan dunia yang ditakuti kebangkitannya.

Umat Islam sudah terlalu lama tertidur, dinina bobokan oleh segala hal yang berbau modernitas ala barat, tidak bermaksud memojokkan segala hal yang datang dari barat, tapi hanya hal-hal tertentu saja yang membuat umat Islam melupakan identitas mereka dan menjadi lalai sebab terlena oleh apa yang ditawarkan mereka (dunia barat) lewat medianya.


Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, saya yakin sekali genosida dan pencaplokan wilayah di Palestina saat ini hanya bisa di akhiri dengan bersatu nya umat Islam dari seluruh dunia melawan Israel dan sekutunya, bukan lagi melalui meja perundingan, tapi berperang mengangkat senjata. Rapat-rapat dari dulu sama sekali tak menyelesaikan masalah disana, karena toh PBB dan Dewan Keamanan diisi oleh orang-orang “mereka” juga. Mari singkirkan sejenak perbedaan diantara kita, Sunni, Syiah, Hizbullah, Al Qaeda, Hamas, dan apapun itu namanya, selama masih beriman kepada Allah dan Rasul nya Muhammad SAW, kita semua bersaudara, dan Palestina adalah saudara kita yang saat ini sedang teraniaya, selayaknya saudara, mereka membutuhkan bantuan kita sekarang. 

Ahok The Triggered

Pengejawantahan nilai demokrasi dan pancasila di negeri ini belakangan kembali marak di perbincangkan masyarakat luas, diangkat sebagai topik utama hampir di setiap stasiun berita, dan menjadi headline di koran-koran yang kian kehilangan peminatnya. Pembubaran HTI seakan menjadi start di mulai nya pembersihan massal, menyasar pada kelompok-kelompok mana yang dianggap memiliki pandangan tidak sejalan dengan pancasila, maka siap-siap saja dibubarkan. Pertanyaannya, apakah PERPU yang tampak sangat dibuat-buat ini benar-benar mewakili suara rakyat Indonesia? Atau khusus untuk menjatuhkan HTI?, haruskah kita khawatir peraturan baru ini akan mengancam kebebasan rakyat untuk berserikat dan berpendapat?, atau yang lebih mengerikan lagi apakah ini bentuk dari otoritarianisme gaya baru?.

HTI yang mereka sebut dengan istilah ormas “anti pancasila dan kebhinekaan”, bukanlah ormas baru, dan kehadirannya pun sudah terbilang lama, tapi kenapa baru sekarang ditindak?. Memang belakangan ini isu-isu kebhinekaan santer kembali menjadi sorotan dan menjadi pembahasan tidak hanya di gedung pemerintah tapi juga di warung-warung kopi sebagai parlemennya rakyat jelata, sejak peristiwa pelecehan agama oleh Ahok banyak mendapatkan sorotan, baik dari dalam maupun luar negeri.  Ya, apa yang dilakukan Ahok seperti kembali membuka lembar baru sejarah bangsa ini melawan penyakit yang bernama rasisme (pelecehan atas nama ras). Tapi bukankah yang Ahok lakukan adalah rasisme, rasisme agama/keyakinan?.

Namun sebelum kita membahas mengenai kasus Ahok ini secara mendalam, mari kita menggunakan perspektif lain dalam memandang kasus ini, perspektif yang sangat berbeda dari yang sering ditampakkan televisi dan di telan mentah-mentah oleh masyarakat. Dia (Ahok) menganggap salah satu ayat yang terdapat dalam kitab suci agama islam sebagai ayat yang membohongi umatnya, dan parahnya lagi dia mengutip ayat itu dengan tujuan kampanye, dan dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah yang ingin maju lagi dalam pemilihan. Kalau ini bukan pelecehan, saya tak tahu lagi apa namanya.

Kasus Ahok seakan menjadi triggered (pemicu) terbuka nya luka lama. Luka yang seharusnya sudah sembuh ini menjadi kembali terbuka dan berdarah-darah, tak sampai disitu saja, Ahok yang akhirnya di penjara (setelah serangkaian peristiwa dan drama yang lebih dari telenovela itu usai) seakan tak rela kalau ia tertimpa sial sendirian. Seperti kebanyakan kasus lain yang menyasar para “pembesar” di institusi mereka masing-masing (ingat kasus Abraham Samad dan sang calon kapolri, apa yang terjadi dengan Abraham Samad setelah beliau dengan berani nya “menyasar” calong orang nomor satu di kepolisian sebagai tersangka?. Dan juga kepala KPK lain yang ada-ada saja kasus aneh yang menimpa mereka sesaat setelah mereka dengan berani menyentuh pejabat negara dengan posisi tinggi?).


Kira-kira begitulah apa yang terjadi pada HTI sekarang. Sebagaimana telah kita ketahui bersama, orang-orang yang paling banyak memprotes dan menuntut Ahok agar di pernjarakan adalan mayoritas umat islam, yang merasa agama dan kitab sucinya di lecehkan. Lalu apakah menjadi kebetulan kalau setelah itu, banyak ulama, dan ormas islam yang kemudian menjadi sasaran dari proses hukum yang seperti dibuat-buat dan serampangan. Ada chat mesum lah, anti kebhinekaanlah dan lain sebagainya.

Saya rasa tidak perlu sekolah tinggi-tinggi sampai mejadi sarjana apalagi doktor dalam bidang ilmu politik, hanya untuk melihat ada aksi balas dendam dari pihak-pihak yang tidak senang kalau Ahok akhirnya kalah, kalah dalam pemilu dan kalah dalam perkaranya di pengadilan. Setidaknya harus ada yang ditumbalkan dari pihak musuh, maka dimulailah dagelan politik yang dapat kita saksikan hingga sekarang.

HTI sebagai ormas dengan ideologi islam adalah warning pertama bagi umat islam agar berhati-hati mulai dari sekarang, kita adalah sasaran empuk penguasa yang takut kalau umat islam kembali bangkit dan mengambil alih kendali negeri ini. Apa yang menimpa HTI haruslah menjadi peringatan keras kalau negara tidak lagi menjadi tempat mewakili aspirasi rakyat, tapi sebaliknya menjadi wadah bagi segelintir orang yang mempunyai kepentingan bagi diri mereka dan kelompoknya sendiri untuk melancarkan rencana mereka menjadikan Indonesia seperti Cina dan mereka menjadi cukong-cukongnya. Menyingkirkan umat islam dari peredaran tatanan kepemerintahan adalah langkah awal yang harus terlaksana, kalau mereka ingin rencananya berhasil tanpa gangguan.

Mengapa umat islam?. Umat islam adalah mayoritas di negeri ini dan sampai sekarang manjadi kelompok yang paling vokal menentang segala kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan amanat undang-undang dan bertentangan dengan ajaran-ajaran islam. Apakah islam hanya mewakili umat penganutnya saja?, tidak, islam bersuara atas nama rakyat Indonesia secara luas, atas nama rakyat yang di bodohi oknum pemerintah yang senang ambil proyek dari banyak nya aliran investasi dari luar negeri dengan cara menjual tanah rakyat Indonesia kepada asing.

Fenomena pasar bebas adalah kedok semata, sebenarnya pemerintah menggadaikan Indonesia kepada Cina dan antek-anteknya untuk di kuras habis kekayaannya dan dijual keluar, apa yang tersisa untuk rakyat Indonesia?. Jawabannya adalah polusi, sampah, dan kemiskinan yang semakin timpang.

Sebelum ada pasar bebas para pencari kerja di Indonesia jumlahnya sudah sangat mencengangkan, itupun sudah sikut kiri sikut kanan, belum juga dapat kerja. Semakin sulit karena di negara yang amat kita cintai ini ada sebauh tradisi luhur yang namanya “the power of orang dalam”, jadi kalau saudara tidak mempunyai keluarga, kenalan, dan uang, jangan harap Anda bisa bekerja di institusi negara dan banyak sektor lainnya.

Miris memang tapi itulah kenyataannya, saya yakin pembaca sekalian mengamini fenomena ini karena memang benar-benar ada di tengah-tengah kita.

Kembali ke pokok pembahasan, kasus Ahok haruslah di pandang sebagai apa ada nya. Jangan dibumbui macam-macam, seperti anti Cina, anti kebhinekaan dan sebagainya. Kasus Ahok adalah murni sebuah pelanggaran hukum, dilakukan diwaktu dan tempat yang jelas salah, dan Ahok sebagai pelakunya melakukan itu dengan sangat sadar, sudah titik. Jangan di sangkut pautkan dengan hal lain yang sebenarnya di luar konteks itu, seperti anti Cina misalnya, seolah sebagai justifikasi kalau apa yang dilakukan Ahok itu sesuatu yang wajar. Kalau begitu, bukannya apa yang dilakukan Ahok adalah tindakan yang masuk kategori anti al quran, yang sama juga dengan anti islam?. Iya donk?.

Jadi yang ada di benak sebagian besar orang pendukung Ahok adalah, apa yang dilakukan Ahok bukanlah suatu bentuk penghinaan agama, dan apa yang dilakukan umat islam dengan menuntut Ahok agar di penjara atas perbuatannya melecehkan agama islam adalah aksi yang anti kebhinekaan, logika apa yang mereka pakai?.

Tidak ada satupun dalam ajaran islam yang menyuruh umatnya untuk membenci umat lainnya. Kalau ada orang islam yang bersikap dan berperilaku demikian maka itu bukanlah ajaran islam. Islam menagajarkan toleransi pada umatnya, dan itu sudah final. Aksi terorisme yang selalu dikaitkan dengan islam, dan membawa-bawa nama islam sama sekali tidak berdasar dan hanyalah agenda sekelompok orang untuk menjatuhkan islam dan membuat penduduk dunia memusuhi islam. Dan itu berhasil sampai sekarang. Dengan corong mereka adalah industri media raksasa dari barat yang terus mempropagandakan islam sebagai agama yang umat nya suka sekali dengan kekerasan, suka membunuh sesama, menentang kebebasan wanita dan banyak lagi tuduhan keji dan tak berdasar lainnya.


Umat islam di manapun saudara berada, saudara harus aware dengan kondisi ini, pandangan masyarakat dunia termasuk Indonesia terhadap islam sudah salah kaprah, dan itu adalah satu dari keberhasilan mereka (orang barat) mempengaruhi opini dan pandangan penduduk dunia melau media-media mereka. Jadi tak ada yang lain selain bersatulah, jangan mengharapkan bantuan dari orang lain karena memang tidak akan ada, umat islam ditakdirkan untuk berjuang menegakkan kalimat Allah sampai hari yang di janjikan itu tiba. Rapatkan barisan karena hari itu akan tiba...